Sabang, Aceh – Pada 21 Februari 2026, Gerakan Rakyat memasuki usia satu tahun dengan cara yang penuh makna dan pesan strategis. Alih-alih merayakan dengan seremoni simbolik, organisasi ini memilih melakukan aksi penanaman pohon di Kilometer Nol Indonesia, Sabang. Dari ujung barat negeri, sebuah komitmen ditegaskan: perjuangan membela rakyat harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Ketua Umum Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid, memimpin langsung kegiatan tersebut sebagai bentuk konsistensi arah gerakan. Baginya, satu tahun perjalanan bukan sekadar angka, tetapi momentum untuk mempertegas visi. Menanam pohon di KM 0 bukan hanya aksi seremonial, melainkan pernyataan sikap bahwa pembangunan nasional harus berpijak pada prinsip keberlanjutan.
Rombongan tiba di Aceh melalui Bandara Sultan Iskandar Muda pada Sabtu siang sekitar pukul 14.45 WIB. Kehadiran mereka disambut jajaran Dewan Pimpinan Wilayah Aceh dan para pimpinan daerah dari Banda Aceh, Aceh Besar, hingga Bireuen. Sambutan tersebut menunjukkan bahwa isu lingkungan telah menjadi bagian penting dari agenda kolektif organisasi.
Perjalanan menuju Sabang ditempuh melalui jalur laut dengan kapal cepat. Bentangan samudra yang luas menjadi pengingat nyata bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan sangat bergantung pada keseimbangan alamnya. Setibanya di Sabang, rombongan menunaikan ibadah sebelum bergerak menuju kawasan Kilometer Nol sebagai lokasi utama kegiatan.
Di titik nol Indonesia itu, Sahrin Hamid bersama jajaran pimpinan wilayah dan daerah menanam pohon secara simbolis. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa tindakan sederhana ini mencerminkan tanggung jawab moral dan konstitusional. Amanat untuk melindungi seluruh tumpah darah Indonesia harus dimaknai secara utuh—meliputi manusia sekaligus lingkungan yang menjadi ruang hidupnya.
Sabang dipilih bukan tanpa pertimbangan. Kota ini memiliki nilai historis sebagai pelabuhan strategis sejak masa kolonial dan dikenal luas dengan julukan “Serambi Mekah.” Warisan sejarah dan spiritualitas tersebut memberikan dimensi reflektif terhadap kegiatan ini. Di tempat yang menjadi simbol awal geografis Indonesia, Gerakan Rakyat ingin menegaskan bahwa perjalanan bangsa ke depan harus selaras dengan perlindungan alam.
Indonesia saat ini menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks. Deforestasi, degradasi lahan, pencemaran air dan laut, hingga dampak perubahan iklim menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan pembangunan. Dampak tersebut tidak dirasakan secara merata; kelompok masyarakat kecil seperti petani, nelayan, dan masyarakat adat kerap menjadi pihak yang paling terdampak.
Gerakan Rakyat memandang bahwa keadilan sosial tidak akan terwujud tanpa keadilan ekologis. Ketika hutan ditebang tanpa kendali, bukan hanya ekosistem yang rusak, tetapi juga mata pencaharian masyarakat yang hilang. Ketika laut tercemar, bukan hanya biota yang terancam, melainkan juga ekonomi keluarga yang terguncang. Karena itu, menjaga lingkungan adalah bagian integral dari perjuangan membela rakyat.
Melalui momentum satu tahun ini, organisasi tersebut menyerukan perubahan paradigma pembangunan. Eksploitasi sumber daya alam yang merusak harus dihentikan. Tata kelola hutan dan tambang perlu dijalankan secara transparan dan akuntabel. Hak masyarakat adat atas ruang hidupnya harus dilindungi secara nyata. Selain itu, transisi menuju ekonomi hijau yang berkeadilan perlu dipercepat agar pertumbuhan ekonomi tidak lagi mengorbankan kelestarian lingkungan.
Aksi di Kilometer Nol Sabang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan nasional yang sebelumnya juga digelar di wilayah timur dan utara Indonesia. Rangkaian ini menunjukkan konsistensi dan keseriusan Gerakan Rakyat dalam mengusung agenda ekologis sebagai bagian dari perjuangan kebangsaan. Ini bukan gerakan sesaat, melainkan komitmen jangka panjang yang dirancang untuk membangun kesadaran publik.
Lebih dari sekadar kegiatan organisasi, penanaman pohon ini adalah ajakan persuasif kepada seluruh elemen bangsa. Pemerintah, dunia usaha, komunitas, hingga individu memiliki peran penting dalam menjaga bumi. Setiap langkah kecil—mulai dari menanam pohon hingga mengurangi praktik yang merusak lingkungan—adalah kontribusi nyata untuk masa depan bersama.
Pesan dari ujung barat Indonesia disampaikan dengan tegas: pembangunan tidak boleh lagi mengabaikan daya dukung lingkungan. Indonesia membutuhkan kebijakan yang berorientasi jangka panjang, berpihak pada rakyat, dan selaras dengan prinsip keberlanjutan. Tanpa lingkungan yang sehat, kesejahteraan yang adil hanya akan menjadi wacana.
Satu tahun perjalanan Gerakan Rakyat menjadi momentum evaluasi sekaligus peneguhan arah. Organisasi ini menempatkan keadilan ekologis sebagai fondasi perjuangan, karena kesejahteraan sejati hanya dapat terwujud ketika manusia dan alam hidup dalam keseimbangan.
Penanaman pohon di titik nol Indonesia menjadi simbol awal dari langkah yang lebih besar. Seperti pohon yang akan tumbuh dan berakar kuat, semangat keadilan ekologis diharapkan menyebar ke seluruh penjuru negeri. Dari Sabang, komitmen itu diteguhkan: mari bangun Indonesia yang adil, lestari, dan berkelanjutan—dimulai dari kesadaran untuk menjaga bumi hari ini.